Senin, 02 Agustus 2010

PENGARUH PEMBERIAN AIR SIRAM PERMUKAAN PAGI (P2T1) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI (Brassica juncea)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bila presipitasi jatuh keatas tanah maka sebagian air melewati permukaan masuk ke pori – pori dan mulai bergerak kebawah dibawah tarikan dari gaya gravitasi. Oleh karena penyerapan air terjadi didalam lapisan permukaan sampai tegangan permukaan, higroskopis, dll. Ada satu progressive penurunan jumlah air yang melintas berturut-turut pada tingkat yang lebih rendah sehingga lapisan – lapisan yang ada menjadi penuh. Dengan begitu jelas bahwa disposisi air infiltrasi tidak tergantung pada karakter ruang permukaan pori tanah (Linsley, dkk, 1949).

Kehilangan air melalui proses transpirasi biasanya digantikan oleh absorpsi dari tanah menuju akar. Air akan bergerak menuju daun sejauh 75 cm/menit. Disamping itu, tanaman tidak mempunyai mekanisme erat untuk memperoleh air. Proses kehilangan air melalui transpirasi tidak ditandai dengan adanya kelebihan air. Air merupakan faktor utama untuk membatasi pertumbuhan tanaman didalam suatu habitat (Uno, dkk, 1998).

Air yang terjadi dibawah permukaan tanah disebut air bawah tanah. Air dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu air yang terjadi pada zona kejenuhan yang berasal dari mata air yang telah disediakan disebut air tanah dan air yang terjadi diantara permukaan tanah dan pada zona kejenuhan disebut air suspensi (Meinzer, 1942).

Temperatur air ditentukan oleh keseimbangan energi. Masukan dari energi batang berasal dari matahari, atmosfer, presipitasi, kondensasi dan adveksi dari aliran hulu. Air dapat memancarkan energi melalui radiasi, evaporasi dan adveksi dari aliran hilir dan energi yang diubah dengan atmosfer dan pada sisi air melalui konduksi. Air dapat dipelihara untuk menyeimbangkan temperature di atmosfer (Arnell, 2002).

Air masuk dan sel-sel daun merupakan hasil dari difusi keseberang secara diferensial selaput yang dapat menyerap melalui proses osmosa. Karena osmosa merupakan jenis spesifik dari difusi. Difusi itu tergantung pada molekul yang konstan didalam gerakan acak (Nadakavukaren and Mc. Cracken, 1992).

Julah dari air yang digunakan leh suatu panen diladang bergantung pada sejumlah dari energi radient yang mencapai ladang, kelembaban relative dan tingkat ketersediaan air keakar pada lahan didalam lingkungan. Lingkungan yang lembab, kebanyakan dari radiasi yang netto yang mencapai bumi digunakan untuk menguapkan air (Barber, 1984).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan darimpercobaan ini adalah untuk melaksanakan cara pemberian air dengan berbagai metode terhadap tanaman dan untuk mengetahui cara pemberian air yang yang efisien terhadap tanaman.

Hipotesa Percobaan
Dari percobaan dengan menggunakan berbagai metode diperoleh bahwa tanaman yang lebih baik pertumbuhannya adalah tanaman yang menggunakan penyiraman diatas permukaan tanah.

Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agrohidrologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman
Tanaman sawi (Brassica juncea) diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Rhoeadales (Brassicales)
Ordo : Cruciferae (Brassicaceae)
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea
(Anonimous a, 2009).

Brassica juncea memiliki sistem perakaran tunggang. Semak, tinggi +60 cm . Tegak, massif, silindris, lincin, hijau. Tunggal silang berhadapan, lonjong, tepi merata atau bergerigi, ujung tumpul, pangkal meruncing, panjang 7-15 cm, lebar 3-6 cm, hijau. Majemuk, berkelamin dua, diujung batang tangkai silindris, panjang +1 cm, hijau, kelopak pipih memanjang, halus, hijau kekuningan, kepala sari empat persegi panjang, coklat muda, tangkai putik silindris, panjang +1 cm, hijau, kepala putik bulat, coklat muda. Mahkota silindris, lepas satu sama lain, berwarna kuning. Polong berbentuk bulat panjang +3 cm, berwarna hijau (Anonimous b, 2009).

Sawi yang termasuk famili Crusiferae, dikenal ada tiga varietas sebagai berikut :
-Sawi Huma
Batangnya kecil dan panjang (langsing). Daunnya panjang sempit berwarna hijau keputih-putihan, bertangkai dan bersayap. Sawi (Brassica juncea) merupakan tanaman semusim yang berdaun lonjong, halus, tidak berbulu an tidak berkrop.
-Sawi putih atau sawi jabung
Daunnya lebar berwarna hijau tua lemas, halus bertangkai panjang dan bersayap. Sayapnya melengkung kebawah. Sawi jenis ini batangnya pendek dan tegap.
-Sawi hijau
Batangnya pendek dan tegap. Daunnya lebar berwarna hijau keputih-putihan dan bertangkai pipih(PS, 1993).
Daun sawi tanah berbentuk bulat telur atau ulat, memanjang, tunggal dan tersebar. Ujung daun lancip dan tepinya bergerigi. Bunga berukuran kecil dan berwarna kuning. Bunga tersusun dalam tandan diujung-ujung batang. Buah berupa buah lobak. Jika buah masak akan membuka dua katub (Mangoting, dkk, 2005).

Syarat Tumbuh
Iklim

Tanaman sawi dapat tumbuh baik dapat tumbuh ditempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi tanaman sawi tahan terhadap air hujan , sehingga dapat ditanaman sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. Lebih cepat tumbuh apabila ditanaman dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air tergenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila ditanaman pada akhir musim penghujan (Anonimus a, 2009).
Tanaman ini tidak cocok dengan hawa yang panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 15-20oC. Pada suhu dibawah 15oC cepat berbunga, sedangkan pada suhu diatas 26oC tidak akan berbunga (AAK, 1992).

Tanah
Keadaan tanah yang dikehendaki adalah tanah gembur, banyak mengandung humus dan drainase baik dengan derajat kemasaman (pH) 6-7 (PS, 1993).
Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 100 m diatas permukaan laut, tanaman ini dapat bertelur tetapi daerah rendah tidak dapat bertelur. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air (AAK, 1992).
Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 m sampai dengan 1.200 m dpl. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 m sampai 500 m dpl. Tanah yan cocok untuk ditanamin sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Anonimous a, 2009).
Umumnya ditanam sebagai tanaman sayur dan kadang juga dijumpai tumbuh liar ditepi-tepi jalan. Tumbuh baik ditanah yang gembur dan subur pada ketinggian 800 m sampai 2000 m dpl. Berbunga pada bulan April - Agustus dan pemanenan dapat dilakukan sepanjang tahun (Anonimous c, 2009).

Kegunaan Air Bagi Tanah dan Tanaman
Air pengairan yang tergolong baik sekali (kelas I) dalam keadaan normal dapat diberikan pada relatif samua jenis tanaman dalam kebutuhannya akan air bagi pertumbuhan dan perkembangannya, lain halnya dengan air pengairan yang tergolong baik, bagi sebagian besar jenis tanaman sangat menunjang pertumbuhan dan perkembangannya akan tetapi ada kemungkinan jenis-jenis tanaman tertentu kurang menunjang, pertumbuhan dan perkembangan berlangsung juga tetapi hasilnya mungkin kurang memuaskan. Sedang air pengairan yang tergolong kelas 3 adalah yang kurang baik bagi pertumbuhan tanaman sehingga air pengairan ini perlu dicegah bagi usaha pertanian (Kartasapoetra, dkk, 2002).
Air terdapat di dalam tanah/diserap oleh massa tanah, tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Guna air bagi pertumbuhan tanaman adalah :
- Sebagai unsur hara tanaman; tanaman memerlukan air dari tanah dan CO2 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesa.
- Sebagai pelarut unsur hara; unsur-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-akar tanaman dari larutan tersebut.
- Sebagai bagian dari sel tanaman; air merupakan bagian dari protoplasma (Anonimus d, 2009).
Peranan air dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, yaitu :
- Air merupakan bahan penyusun utama dari pada protoplasma.
- Air merupakan reagen dalam tubuh tanaman, yaitu pada proses fotosintesis.
- Air merupakan pelarut substansi (bahan-bahan) pada berbagai hal dalam reaksi-reaksi kimia.
- Air digunakan untuk memelihara tekanan turgor.
- Sebagai pendorong proses respirasi.
- Secara tidak langsung dapat memelihara suhu tanaman.
(Anonimous e, 2009).
Proses masuknya air dari permukaan tanah ke dalam tanah disebut infiltrasi, sedangkan gerakan air di dalam tanah karena gaya gravitasi disebut perkolasi. Sebagian air perkolasi oleh partikel tanah dan berada dalam pori tanah karena gaya kapiler. Air yang diikat partikel tanah dan air kapiler disebut sebagai lengas tanah yang sebagian dapat dimanfaatkan tanaman, sebagian lagi terus mengalir sebagai air perkolasi dan selanjutnya bergabung dengan air tanah. Air tanah dapat naik melalui gaya kapilaritas untuk mengisi pori tanah yang kehilangan lengas (Sutanto, 2005).

Pemberian Air Dengan Berbagai Metode
Irigasi tetes yang disebut juga dengan sistem infus ini merupakan sistem pemberian makanan sesuai dengan kebutuhannya lewat jaringan di pembuluh kayu. Pemberian nutrisi yang berfungsi untuk pertumbuhan akar dan batang dilakukan 18 hingga 22 kali dalam setahun dengan jarak lima hingga tujuh hari sekali. Teknologi ini menggunakan beberapa rangkaian alat yang terdiri atas tabung emiter yang memanfaatkan botol-botol bekas air mineral yang di cat warna perak agar tidak tembus cahaya yang akan membuat nutrisi dalam tabung bisa mengendap. Dengan teknologi irigasi tetes, tanaman tidak harus berbunga pada musim hujan sehingga bakal buah terselamatkan. Tanaman ini juga bisa menyelamatkan tanaman sepanjang tahun dan tidak membutuhkan bendungan besar tapi cukup dengan bendungan kecil atau waduk. Irigasi tetes memasang perangkatnya persis seperti infus pada tubuh manusia (Anonimous f, 2009).
Pemberian air pengairan pada permukaan tanah dengan maksud agar air tersebut dapat merembes melakukan pembasahan disekitar lapisan oleh tanah (top soil). Dengan dilakukannya pemberian air ini selain pengolahan tanah dapat dilakukan dengan mudah, juga menambahkan unsur-unsur yang terkandung dalam air ke dalam tanah serta memudahkan akar-akar tanaman untuk mengambil / menyerapnya (Kartasapoetra, dkk, 2002).
Untuk menjaga kelembaban udara, caranya bisa bermacam-macam. Pertama, bisa dengan memberikan semprotan air disekitar tempat penanaman memekai sprayer. Cara pemberian air yang baik adalah dengan sprayer. Air keluar dari sprayer berupa butiran-butiran halus sehingga tidak menghanyutkan atau merusak media atau bagian tanaman. Biasa penyiraman dilakukan dua kali sehari. Bila kemarau, frekuensinya ditambah jadi tiga kali. Idealnya, penyiraman dilakukan pada pagi sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 dan 16.00 – 18.00 (sore) (Anonimous g, 2009).
Irigasi permukaan mengalirkan airnya melalui saluran ke dalam petakan lahan yang dibatasi oleh galengan, baik secara merata mengenggangi permukaan lahan atau melalui selokan-selokan diantara gulugan. Penggenangan keseluruh permukaan lahan umumnya untuk tanaman padi, padang rumput dan sejenisnya, sedangkan irigasi selokan (furrow) umumnya untuk tanaman yang ditanam berlarikan dalam galudan seperti kentang, gula bit, ketela rampat, jagung, tanaman buah-buahan dan sejenisnya (Hakim, 1986).
Sprinkle irrigation system atau cara pemberian air pengairan dengan pancaran dilakukan dengan menggunakan pipa-pipa yang dipasang atau ditanam, yang penempatannya dan dengan tekanan tertentu diperkirakan pancaran airnya dapat membasahi seluruh tanah dan tanaman dilahan pertanaman. Cara pemberian air pengairan secara pancaran umumnya diterapkan pada lahan-lahan pertanaman yang dipakai umtuk membudidayakan jenis tanaman yang bernilai ekonomi tinggi dan kebutuhan airnya relatif sedikit (Kartasapoetra, dkk, 2002).

Kelebihan dan Kelemahan Berbagai Metode
Keuntungan irigasi tetes :
- Efisiensi sangat tinggi (evaporasi rendah, tidak ada gerakan air di udara, tidak ada pemabasahan daun, run off rendah, pengairan dibatasi disekitar tanaman pokok)
- Respon lebih baik (produksi, kualitas, keseragaman) terhadap tanaman
- Tidak mengganggu aerasi tanah, dapat dipadu dengan unsure hara, tekanan rendah, tidak mengganggu keseimbangan kadar lengas
- Mengurangi perkembangan serangga, penyakit, dan jamur
- Penggaraman/pencucian garam efektif karena ada isolasi lokasi
- Lahan tidak terganggu karena pengolahan tanah, siraman, dll
- Meningkatkan drainase permukaan
(Anonimous h , 2009).
Sistem irigasi tetes memiliki beberapa kelemahan, terutama jika akan diterapkan secara luas di Indonesia, antara lain :
1. Investasi yang dikeluarkan cukup tinggi dan dibutuhkan teknik yang relatif tinggi dalam desain, instalasi dan pengoperasian sistem
2. Penyumbatan emiter yang disebabkan oleh faktor fisik, kimia dan biologi air yang dapat mengurangi efisiensi dan kinerja sistem
3. Pada daerah yang tidak terbasahi berpotensi terjadi pemupukan garam
(Sutanto, dkk, 2006).

Keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan cara ini (pemberian air dipermukaan) :
- Efisiensi penggunaan air yang cukup tinggi
- Air pengairan dapat dihemat
- Pemberian air dapat dilakukan secara teratur dan merata
- Dapat memperbaiki aerasi tanah pada zona perakaran
- Terjadinya penambahan unsur-unsur hara dalam tanah yang mudah diserap oleh akar tanaman demi pertumbuhan dan perkembangannya.
Namun demikian, kekurangannya ada pula, yaitu :
- Diperlukan biaya yang lebih besar bagi pengaturan air yang intensif serta penggunaan lebih banyak tenaga
- penekanan terhadap pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu) kurang efektif
(Kartasapoetra, dkk, 2002).
Keuntungan irigasi curah :
- Pengukuran air lebih mudah
- Tidak mengganggu pekerjaan dan hemat lahan
- Efisiensi air tinggi
- Investasai dengan mempertimbangkan kebutuhan
- Jaringan distribusi luwes dan memungkinkan otomasi sehingga D & P lebih murah.
(Anonimous h , 2009).

Beberapa kelemahan dari system irigasi curah adalah :
1. memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yangcukup tinggi, antara lain untuk operasi pompa air dan tenaga pelaksana yang terampil
2. Memerlukan rancangan dan tata letak yang cukup teliti untuk memperoleh tingkat efisiensi yang cukup terliti untuk memperoleh tingkat efisiensi yang tinggi
(Susanto, dkk, 2006).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan ini dilakukan di Rumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl pada tanggal 02 Februari 2009 sampai tanggal 30 Maret 2009 pukul 15.00 WIB.

Bahan dan alat
Adapun bahan yang digunakan adalah tanaman Aglaonema sebagai objek pengamatan, kompos sebagai perlakuan tambahan pada media tanam, bibit atau benih tanaman sebagai objek percobaan, bayfolan sebagai pupuk yang diberi ke dalam tanaman air bersih untuk menyiram tanaman, label nama untuk menandai setiap perlakuan, botol aqua sebagai wadah air, batu bata sebagai alas polibag, polibag sebagai wadah tanaman.
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk memebersihkan lahan, sekop untuk mencampurkan tanah dan kompos, timbangan untuk menimbang tanah dan tanaman, gelas ukur untuk mengukur volume air yang akan diberikan, sprayer dan infus untuk menyiram tanaman, bambu/penyangga sebagai naungan tali dan paku untuk mengikat bambu menjadi naungan, terpal sebagai pelindung dari terpaan hujan, ember sebagai wadah air

Metode Percobaan
Adapun metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah dengan pemberian air dengan infus, siram di permukaan pagi, siram di permukaan pagi dan sore, spray pagi dan spray pagi dan sore.

Prosedur Percobaan
- Diambil kompos dan ditimbang masing-masing sebanyak 10 kg
- Dimasukkan kedalam masing-masing polybag
- Diletakkan pada tempat yang telah disepakati yang terhindar
- Diberikan air ke dalam kompos sampai jenuh air lalu didiamkan beberapa saat
- Diambil benih sawi atau kangkung sebanyak 2 – 3 butir lalu dimasukkan kedalam masing - masing polybag sedalam 2 – 3 cm dan bibit Aglaonema atau keladi tikus lalu dimasukkan kedalam masing - masing polybag, dan dipastikan tanaman tegak dan tidak tertekan tanah terlalu padat
- Disusun polybag secara acak dan diberi label sesuai perlakuan.

Metode Infus
- Diambil pacak dan tali untuk mengikat infus dan dipastikan infus telah bersih
- Dihitung jumlah tiap tetes per menit agar 200 ml air tidak terputus tetesannya selama 24 jam
- Dilakukan pengamatan setiap hari, air diganti dan dibersihkan infus, jangan sampai tersumbat dan berlumut
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air Sekaligus di Atas Permukaan Tanah
- Diisi air sebanyak 200 ml pada wadah
- Disiramkankan di atas permukaan tanah pada pagi hari dan diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air 2x Sehari di Atas Permukaan Tanah
- Diisi air sebanyak 100 ml pada wadah
- Disiramkan air di atas permukaan tanah pada pagi hari dan dilakukan hal yang sama pada sore hari, diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air Sekaligus Dengan Cara Penyemprotan
- Diisi 100 sebanyak 200 ml pada handsprayer
- Disemprotkan bagian tanaman dan tanah pada pagi hari dan diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu

Metode Pemberian Air 2x Sehari Dengan Cara Penyemprotan
- Diisi 100 sebanyak 200 ml pada handsprayer
- Disemprotkan bagian tanaman dan tanah pada pagi hari dan dilakukan hal yang sama pada sore hari, diulangi setiap harinya
- Diamati perkembangan tanaman setiap pagi dan sore
- Diambil data setiap minggu


HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1 Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea) Terhadap Pemberian Air Secara Siram Permukaan Pagi ( P2T1 ) Ulangan II

Waktu Parameter
Tinggi Tanaman Jumlah Daun
0 MST
1 MST
2 MST
3 MST
4 MST
5 MST
6 MST
7 MST
8 MST 0
0
0
9,5
14
15
20
24
28 0
0
0
3
6
8
6
7
9


Tabel 2

Pebandingan Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea) Terhadap Pemberian Air secara Siram Permukaan Pagi (P2T1) Ulangan I dan II


Waktu Parameter
Tinggi Tanaman Jumlah Daun
I II I II
0 MST
1 MST
2 MST
3 MST
4 MST
5 MST
6 MST
7 MST
8 MST 0 cm
0 cm
0 cm
8 cm
12 cm
13,5 cm
17 cm
22 cm
25,5 cm 0 cm
0 cm
0 cm
9,5 cm
14 cm
15 cm
20 cm
24 cm
28 cm 0
0
0
3
4
6
8
7
8 0
0
0
3
6
8
6
7
9


Tabel 3

Pebandingan Berbagai Perlakuan Pemberian Air Terhadap Tanaman Sawi (Brassica juncea)


Pemberian air Parameter
Tinggi Tanaman Jumlah Daun Bobot Tanaman
I II I II I II
Tetes
Siram Langsung 1x
Siram Langsung 2x
Spray 1x
Spray 2x 21.35
16.3
19.3
16.2
22 19.1
18.5
20.2
16.5
22.4 4.7
6
5.8
6.3
5.8 5
6.5
5.7
5.8
5.2 30
12.5
20
12.5
12.5 25
12.5
22.5
13
35

Tabel 4

Pebandingan Berbagai Perlakuan Terhadap Berbagai Jenis Tanaman


Perlakuan Parameter
Tinggi Tanaman Jumlah Daun Bobot Tanaman
(gr )
I II x I II x I II x
T1P1
T1P2
T1P3
T1P4
T1P5
T2P1
T2P2
T2P3
T2P4
T2P5
T3P1
T3P2
T3P3
T3P4
T3P5
T4P1
T4P2
T4P3
T4P4
T4P5 21.35
16.3
19.3
16.2
22
77
41.2
34
43.2
50.4
24.2
7.3
3.5
16
19.3
3.3
21.6
10.83
8.78
8.85 19.1
18.5
20.2
16.5
22.4
46.5
39
56.2
64.5
46.2
9.8
4
14.3
10.7
19.4
11.03
16.85
12.4
11.86
7.8 20.2
17.4
19.7
16.3
22.2
61.75
40.1
45.1
53.85
48.3
17
5.65
8.9
13.35
19.35
7.165
19.225
11.615
10.32
8.325 4.7
6
5.8
6.3
5.8
18.3
10.2
21.3
45.8
10.8
0.2
1
0.6
0.8
1.6
3.3
4.16
2
4.33
4.16 5
6.5
5.7
5.8
5.2
10.3
9.2
11.6
21
9.8
0.3
0.2
0.6
0.5
1.8
3
1.83
5.3
2.5
3.83 4.85
6.25
2.85
6.05
5.5
14.3
9.7
16.45
33.4
10.3
0.25
0.6
0.6
0.65
1.7
3.15
3
3.65
3.415
4 30
12.5
20
12.5
12.5
20
12.5
24
24
23
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
25
12.5
22.5
13
35
27.5
25.2
12.5
50
22
-
-
-
-
-
-
-
-
-
- 27.5
12.5
21.25
12.75
23.75
23.75
18.85
18.25
37
22.5
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Pembahasan
Dari hasil data yang diketahui bahwa perbandingan berbagai perlakuan terhadap tanaman sawi (Brassica juncea) pada tinggi tanaman, jumlah daun serta bobot tanaman didapat rata-rata teringgi pada perlakuan pemberian air dengan metode spray pagi dan sore (T1P5) yaitu 22,2 cm, 6,05 helai dan 23,75 gram. Hal ini dikarenakan pemberian air metode spray mengeluarkan air dalam butiran butiran halus yang tidak menghanyutkan atau merusak media dari bagian suatu tanaman. Pada pemberian air metode spray pagi dan sore (T1P5) merupakan frekuensi penyiraman yang ideal. Hal ini sesuai dengan literatur (Anonimous g, 2009) yang menyatakan bahwa penyiraman dilakukan dua kali sehari. Bila kemarau, frekuensinya ditambah jadi tiga kali. Idealnya, penyiraman dilakukan pada pagi sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 dan 16.00 – 18.00 (sore).
Dari hasil percobaan diperoleh besar rata rata terendah pada tanaman sawi (Brassica juncea) parameter tinggi tanaman adalah pada metode spray 1x, yaitu 16,3cm, parameter jumlah daun pada metode siram 2x yaitu 2,85 cm serta parameter bobot pada metode siram dipermukaan 1x yaitu 12,5 gram. Hal ini berarti setiap metode pemberian air berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, kandungan unsur hara yang diberikan dengan setiap metode berbeda-beda, sehingga jika diamati pertumbuhannya dengan paraeter tinggi tanaman, jumlah daun dan bobot tanaman akan berbeda-beda pula.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air terhadap berbagai jenis tanaman. Adapun guna air yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah : sebagai unsur hara tanaman, sebagai pelarut unsur hara, dan sebagai bagian dari sel tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous d (2009) yang menyatakan bahwa guna air bagi pertumbuhan tanaman adalah :
- sebagai unsur hara tanaman
- sebagai pelarut unsur hara, dan
- sebagai bagian dari sel tanaman.
Percobaan ini dilakukan dengan pemberian air secara langsung dipermukaan tanah. Adapun keuntungan dan kerugian dari metode ini sesuai dengan literature Kartasapoetra, dkk (2002) adalah sebagai berikut :
Keuntungannya :
- Efisiensi penggunaan air yang cukup tinggi
- Pemberian air dapat dilakukan secara teratur dan merata
- Dapat memperbaiki aerasi tanah pada zona perakaran
- Penambahan unsur hara dalam tanah yang mudah diserap oleh akar tanaman.
Kekurangannya :
- Diperlukan biaya yang lebih besar bagi pengaturan air yang intensif serta penggunaan lebih banyak tenaga
- penekanan terhadap pertumbuhan gulma kurang efektif.


KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa perbandingan berbagai perlakuan terhadap tanaman sawi (Brassica juncea) pada tinggi tanaman, jumlah daun serta bobot tanaman didapat rata-rata teringgi pada perlakuan pemberian air dengan metode spray pagi dan sore (T1P5) yaitu 22,2 cm, 6,05 helai dan 23,75 gram.
2. Dari hasil percobaan diperoleh besar rata rata terendah pada tanaman sawi (Brassica juncea) parameter tinggi tanaman adalah pada metode spray 1x, yaitu 16,3cm, parameter jumlah daun pada metode siram 2x yaitu 2,85 cm serta parameter bobot pada metode siram dipermukaan 1x yaitu 12,5 gram.
3. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa metode yang tepat untuk tanaman sawi (Brassica juncea) adalah metode spray pagi dan sore (T1P5) karena tanaman sawi yang dapat tumbuh pada keadaan lembab dan tidak pada tanah tergenang.
4. Dari hasil percobaan diperoleh kekurangan metode pemberian air secara langsung dipermukaan dipagi hari adalah dapat memperbaiki aerasi tanah pada zona perakaran dan penambahan unsur hara.
5. Dari percobaan diperoleh kekurangan dari metode pemberian air secara langsung dipermukaan dipagi hari adalah biaya besar dan penekanan pertumbuhan gulma kurang efektif.


Saran
Diharapkan para praktikan lebih teratur dalam melakukan pemberian air dari berbagai jenis metode dan tanaman serta pengambilan data.



DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius. Yogyakarta.

Anonimousa. 2009. uldesains.wordpress.com/2008/01/11/budidaya_tanaman-sawi. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________b. 2009. uldesains. www.warintek.ristek.go.id/pangan-kesehatan/tanaman-obat/sepkes. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________c. 2009. http://bebas.vlsm.org/v12/artikel/ttg-tanaman-obat/depkes/buku5. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________d. 2009. http://www.nunukankab.go.id/print.php. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________e. 2009. nisri.ac.id/faperta/pengaruh-kekurangan-air-water-deficit-terhadap-pertumbuhan-dan perkembangan-tanaman-tembakau. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________f. 2009. www.cybertokoh.com/mod.php. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________g. 2009. id.answers.yahoo.com/question/index. Diakses pada tangal 05 April 2009.

_____________h. 2009. elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/irigasi-dan-bangunan-air/bab2-teknik-irigasi. Diakses pada tangal 05 April 2009.

Arnell, N. 2002. Hydrology and Global Environtment Change. Pearson Education. England.

Barber, S. A. 1084. Soil Nutrient Bioavailability. A mechanistic Approach. John Willey & Sons. New York.

Hakim, N., M. Y. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., C. H. A. Diha., G. B. Hong., H. Bailey. 1986. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Lampung. Lampung.

Kartasapoetra, A. G., M. M. Sutedjo., E. Pollein. 2002. Teknologi Pengairan Pertanian (Irigasi). Bumi Aksara. Jakarta.

Linsley, R. K., M. A. Kohler and J. L. H. Paulhus. 1949. Applied Hydrology. Mc. Graw Hill Book Company : Inc. Tokyo.

Mangoting, D., Imang Irawan., S. Abdullah. 2005. Tanaman Lalap Berkhasiat Obat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Meinzer, O. E., L. D. Baver., M. Bernard., J. E. Church., R. W. Davenport, dkk. 1942. Hydrology. Dover Publilcation., Inc. New York.

Nadavukaren, M., and D. Mc. Cracken, 1990. Botany an Introduction to Plant Biology. West Publishing Company. New York.

PS, Tim Penulis. 1993. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Susanto, R. 2005. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. Konsep dan Kenyataan. Yogyakarta.

Susanto, E., dkk. 2006. Teknik Irigasi dan Drainase. Departemen Teknologi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Uno, G., R. Storey., R. Moore. 2001. Principles of Botany. Mc. Graw Hill Book Company : Inc. Boston.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar