Senin, 02 Agustus 2010

PENYIPATAN PROFIL TANAH

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan tanaman dan organisme, membentuk tubuh unik yang menyelaputi lapisan batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai pedogenesis. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon. Setiap horizon dapat menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut (Anonimous, 2008a).
Morfologi tanah adalah sifat – sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapangan. Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang baru dibuat. Pengamatan dilapangan biasanya dimulai dengan membedakan lapisan – lapisan tanah atau horizon – horizon tanah. Horizon adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah (Hakim, dkk. 1986).
Proses pembentukan profil horison-horison tanah akan menghasilkan benda alam yang baru yang disebut dengan tanah. Penampang vertikal dari tanah itu menunjukkan susunan horison yang disebut dengan profil tanah. Horison horison yang menyusun profil tanah berturut-turut dari atas ke bawah adalah Horison O, A, B dan C (Foth, 1994).
Tanah yang diklasifikasikan bukanlah hanya bagian tanah yang telah memiliki horizon – horizon tanah atau solum tanahnya saja, tetapi juga bagian tanah dibawah solum asalkan gejala – gejala kehidupan masih ditemukan. Tanah yang diklasifikasikan juga bukan hanya tanah yang terbentuk secara alami, tetapi juga tanah yang telah dimodifikasi atau dibuat oleh manusia (Hardjowigeno, 1993).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan ini adalah untuk mendeskripsikan profil tanah di lokasi Peternakan dan Hutan Tridharma lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Kegunaan Percobaan
- Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Pra-praktikal Tes Praktikum Klasifikasi dan Taksonomi Tanah di Laboratorium Mineralogi dan Klasifikasi Tanah, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
- Sebagai informasi bagi pihak yang membutuhkan.


TINAJUAN PUSTAKA
Profil Tanah
Profil tanah merupakan suatu irisan melintang pada tubuh tanah dibuat dengan cara menggali lubang dengan ukuran (panjang dan lebar) tertentu dan kedalaman yang tertentu pula sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitiannya. Dalam hal ini misalnya untuk keperluan genesa tanah pada oksisol yang solumnya tebal, pembuatan profil tanah dapat mencapai kedalaman sekitar 3 - 3,5 meter (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2005).
Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sebagai beikut O-A-E-B-C-R. Solum Tanah terdiri dari O-A-E-B. Lapisan Tanah Atas meliputi O-A. Lapisan Tanah Bawah E-B. Kegunaan profil Tanah adalah untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas O-A) dan solum tanah (O-A-E-B), kelengkapan atau differensiasi horison pada profil tanah, dan warna tanah (Darmawijaya, 1990).
Didalam proses pembentukan tanah menyangkut beberapa hal yaitu penambahan bahan-bahan dari tempat lain ke tanah, kehilangan bahan-bahan yang ada di dalam tanah, perubahan bentuk (transformation) dan pemindahan dalam solum tanah. Pengamatan melalui profil tanah diperlukan untuk mendapatkan data sifat-sifat morfologi tanah secara lengkap, karena sisi penampang dapat terlihat dengan jelas (Anonimous, 2008b).
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan untuk meneliti sifat-sifat tanah dengan baik di lapangan, maka perlu dilakukan irisan tegak lurus dari permukaan tanah ke bawah. Dari irisan tegak lurus ini akan terlihat hubungan tanah yang berada di permukaan buni dengan benda-benda bagian bawahnya sebagai pembentuk tanah. Irisan tegak lurus seperti ini umumnya sampai kedalaman ±150 cm, disebut profil tanah (Buckman dan Brady, 1982).
Secara genetis, horizon paling atas merupakan horison dengan tingkat perkembangan paling lanjut dan semakin ke bawah tingkat perkembangan nya semakin berkurang. Deskripsi profil tanah ini merupakan metoda baku untuk mengenali sejumlah watak tubuh tanah (Hakim, dkk, 1986).

Horizon Tanah
Dilihat dari dekat susunan tanah itu terdiri dari beberapa lapisan yang kira-kira paralel dengan permukaan tanah dan disebut horizon-horizon, yaitu horizon A, B, C. Lapisan yang paling atas biasanya berwarna lebih gelap atau kehitaman, lebih subur, gembur, merupakan tempet pengolahan tanah dan disebut lapisan tanah atas (top soil) atau lapisan olah. Tebal lapisan ini 0-25 cm. Lapisan tanah yang langsung dibawahnya dan langsung di atas lapisan bahan induk (horizon C) disebut lapisan tanah bawah (sub soil). Lapisan ini lebih tebal dari lapisan tanah atas dan biasanya dibagi lagi ke dalam beberapa lapisan. Warnanya lebih muda dan lebih terang, lebih padat, sedang kandungan bahan organiknya lebih sedikit (Buckman dan Brady, 1982).
Setiap vertikal tanah berdiferensiasi membentuk horizon - horizon (lapisan - lapisan) yang berbeda - beda baik dalam morfologis seperti ketebalan dan warnanya, maupun karakteristik fisik, kimiawi, dan biologis masing - masingnya sebagai konsekuensi bekerjanya faktor - faktor lingkungan terhadap : (1) bahan induk asalnya maupun (2) bahan - bahan eksternal, berupa bahan - bahan organik sisa biota yang hidup diatasnya dan mineral non bahan induk (Hanafiah, 2005).
Uraian profil tanah dimulai dengan menentukan letak batas horison, mengukur tebalnya dan mengamati profil tanah secara keseluruhan. Pada dasarnya horison tanah mempunyai cirri-ciri yang juga dihasilkan oleh proses pedogenesis tanah (Fitzpatrick, 1980).
Tanah terdiri dari lapisan berbeda horisontal, pada lapisan yang disebut horizon. Mulai dari bahan yang kaya organik lapisan atas (humus dan tanah) sampai ke lapisan yang rocky (lapisan tanah sebelah bawah, dan regolith bedrock).
- Horizon O - Bagian atas, lapisan tanah organik, yang terdiri dari humus daun dan alas (decomposed masalah organik).
- Horizon A - Juga disebut lapisan tanah, yang ditemui di bawah cakrawala O dan E di atas cakrawala. Bibit akar tanaman tumbuh dan berkembang dalam lapisan warna gelap. Itu terdiri dari humus (decomposed masalah organik) dicampur dengan partikel mineral.
- Horizon E- Ini eluviation (leaching) adalah lapisan warna terang dalam hal ini adalah lapisan bawah dan di atas A Horizon B Horizon. Hal ini terdiri dari pasir dan lumpur, setelah kehilangan sebagian besar dari tanah liat dan mineral sebagai bertitisan melalui air tanah (dalam proses eluviation).
- Horizon B- Juga disebut lapisan tanah sebelah bawah ini adalah lapisan bawah dan di atas E Horizon C Horizon. Mengandung tanah liat dan mineral deposit (seperti besi, aluminium oxides, dan calcium carbonate) yang diterima dari lapisan di atasnya ketika mineralisasi bertitisan air dari tanah di atas.
- Horizon C - Juga disebut regolith: di lapisan bawah dan di atas Horizon B R Horizon. Terdiri dari sedikit rusak bedrock-up. Tanaman akar tidak menembus ke dalam lapisan ini, sangat sedikit bahan organik yang ditemukan di lapisan ini.
- Horizon R- The unweathered batuan (bedrock) yang lapisan bawah semua lapisan lainnya.
(Anonimous, 2008c).
Beberapa simbol tambahan digunakan untuk menunjukkan keistimewaan. Simbol tambahan itu seperti berikut :
- b merupakan horison tanah yang tertimbun.
- ca merupakan akumulasi karbonat alkali tanah.
- cn merupakan akumulasi, konkresi yang kaya akan sesquioxida.
- cs merupakan akumulasi kalsium sulfat.
- g merupakan gleisasi kuat.
- h merupakan akumulasi illuvial humus.
- ir merupakan akumulasi illuvial besi (iron).
- m merupakan sementasi padat.
- p merupakan horison pengolahan.
- t merupakan akumulasi lempung, dan sebagainysa.
(Darmawijaya, 1990).

Sifat- Sifat Fisik Tanah
Entisol
Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah (Harjowigeno, 1993).
Entisol adalah tanah yang cenderung untuk berasal baru. Tanah ini ditandai dengan kemudaannya dan tidak ada horizon genesis alami atau hanya mempunyai permulaan horizon. Konsep pusat Entisol adalah tanah di dalam regolit yang dalam atau bumi tanpa horizon kecuali barangkali suatu lapisan bajak. Akan tetapi beberapa entisol mempunyai horizon plagen, Agrik, A2, dan beberapa batu keras yang dekat dengan permukaan (Foth, 1994).
Seperti aluvial dari daerah-daerah alluvium masih memperlihatkan penampang asli (belum berubah). Keadaan tekstur tanah tergantung pada proses transportasi dan akumulasinya. Dekat-jauhnya bahan itu diangkut dari sumber dan faktor waktu. Pada umumnya besar tekstur tanah yang demikian memperlihatkan tekstur kasar jika berdekatan dengan sungai, dan bertekstur halus juka berjauhan dari sungai atau di luar jalur dataran banjir. Sedangkan penyebaran golongan Entisol tergantung pada keadaan fisiografi yang sangat berbeda-beda (iklim, morfologi, dan pedologi) (Rafi’i, 1990).
Nilai reaksi tanah sangat beragam mulai dari pH 2.5 sampai 8.5, kadar bahan organik tergolong rendah dan biasanya kurang dari 1%, kejenuhan basa sedang hingga tinggi dengan KTK sangat beragam, karena sangat bergantung pada jenis mineral liat yang mendominasi, kadar hara tergantung bahan induk, permeabilitas lambat, dan peka erosi (Munir, 1996).
Tingkat perkembangan yang sangat lemah pada Entisol disebabkan adanya beberapa faktor berikut :
1. Iklim yang sangat ekstrim basah atau kering, sehingga perombajkan bahan induk terhambat
2. Bahan induk yang sangat resisten terhadap pelapukan, misalnya kuarsa
3. Adanya faktor erosi yang selalu mengerus epipedon, sehingga tidak pernah terbentuk horizon eluviasi
(Munir, 1996).

Inseptisol
Inseptisol adalah tanah yang belum matang (Immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah disbanding dengan tanah matang, dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya. Beberapa Inseptisol terdapat dalam keseimbangan dengan lingkungan dan tidak akan matang bila lingkungan tidak berubah (Hardjowigeno, 1993).
Inseptisol dapat berkembang dari bahan induk batuan beku, sedimen dan metamorf. Biasanya memiliki tekstur yang beragam dari kasar hingga halus, dalam hal ini tergantung tingkat pelapukan bahan induknya. Bentuk wilayahnya beragam, dari berombak hingga bergunung, kesuburan tanahnya rendahnya rendah, kedalaman efektifnya beragam dari dangkal hingga dalam. Didataran rendah pada umumnya dijumpai solum yang tebal, sedangkan pada daerah lereng curam solumnya tipis (Munir, 1996).
Inseptisol mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari tiga bulan berturut-turut dalam musim kemarau. Kisaran C-Organik dan KTK dalam Inseptisl sangat lebar, demikian juga kejenuhan basa. Inseptisol dapat terbentuk disemua tempat, kecuali daerah kering, mulai dari kutub sampai tropika (Darmawijaya, 1990).
Ciri khas Inseptisol ialah belum menunjukkan perkembangan horizon yang jelas atau baru mulai ada perkembangan tersebut. Pada umumnya, tekstur tanah yang terbentuk adalah tekstur tanah yang kasar jika terletak berdekatan dengan sungai, dan bertekstur halus, jika berjauhan dari sungai atau di luar jalur dataran banjir (diluar flood plain). Pada tanah ini horizon-horizon penciri lain tidak ada kecuali epipedon ochrik, albik, ataupun histik (Rafi’i, 1990).
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan Inseptisol adalah :
1. Bahan induk yang resisten
2. Posisi dalam landskap yang ekstrim yaitu daerah curam atau lembah\
3. Pembentukan geomorfologi yang muda, sehingga pembentukan tanah belum lanjut
Tidak ada proses yang dominan kecuali leaching, meskipun proses pedogenik adalah aktif. Ditempat dengan bahan induk yang resisten, proses pembentukan liat terhambat (Harjowigeno, 1993).


Epipedon
Epipedon adalah cakrawala (atau wawasan) yang terbentuk pada atau dekat permukaan. Hal ini gelap oleh bahan organik atau menunjukkan bukti eluviation. Sebuah epipedon tidak sama sebagai horizon A. Epipedon dapat mencakup sebagian atau seluruh horizon B yang illuvial jika gelap oleh bahan organik meluas dari permukaan tanah ke dalam horizon B. Semua tanah harus memiliki salah satu dari epipedons berikut. Delapan epipedons diakui tetapi hanya enam terjadi secara alamiah. Antropik dan Plaggen adalah akibat dari penggunaan manusia yang intensif.
- Mollic Epipedon : mollic adalah mineral, horizon berwarna gelap. Hal ini tebal (umumnya> 25 cm) dan memiliki status basa yang tinggi (> 50% kejenuhan basa & KB =% dari basa pada CEC). Epipedons ini adalah karakteristik tanah asli yang dikembangkan di bawah padang rumput.
- Umbric Epipedon : umbric memiliki karakteristik yang sama dengan mollic kecuali Kejenuhan basa kurang dari 50% karena pelindian kation dasar. Umbric yang berkembang di daerah dengan curah hujan lebih tinggi dari mollic tersebut.
- Melanic Epipedon adalah horison mineral yang sangat berwarna hitam karena kadar bahan organik tinggi. Ini adalah karakteristik tanah yang dikembangkan dari abu vulkanik.
- Histic Epipedon adalah lapisan tanah organik yang secara alami jenuh dengan air.
- Folistic Epipedon seperti histic kecuali tidak jenuh dengan air selama lebih dari 30 hari.
- Ochric Epipedon : ochric yang gagal memenuhi definisi untuk salah satu epipedons lainnya. Oleh karena itu terlalu ringan, terlalu kurus atau terlalu rendah dalam bahan organik. Jika tanah yang epipedon tidak memenuhi salah satu kriteria untuk epipedon lain (Anonimous, 2010).

Horizon Bawah Penciri
Horison bawah permukaan terletak di bawah permukaan tanah, meskipun di beberapa daerah sebagian horizon-horizon bawah permukaan tanah terbentuk dari lapisan bahan organik. Horizon bawah permukaan terbentuk karena adanya proses trunkasi dari permukaan tanah. Beberapa horizon ini dari horizon B, sebagian lagi berasal dari horizon B yang terbentuk bukan dari pembentukan tanah dan merupakan sebagian dari horizon A (Soil Survey Staff, 1975).
Horizon-horizon bawah penciri dalam klasifikasi tanah adalah sebagai berikut:
- Horizon agrik : Horizon yang terdapat di bawah lapisan olah, terdapat akumulasi debu, liat, dan humus.
- Horizon albik : Horizon berwarna pucat (horizon A2), warna dengan value lembab › 5.
- Horizon argillik : Horizon penimbunan liat adalah horizon B yang paling sedikit 1.2 kali lebih banyak daripada liat di atasnya, terdapat selaput liat.
- Horizon kambik : Adanya argillik, lemah atau spodik, tetapi tidak memenuhi syarat untuk kedua horizon tersebut.
- Horizon kalsik : Tebal 15 cm atau lebih, mengandung CaCo3 atau MgCo3.
- Horizon natrik : Horizon argillik yang banyak mengandung Natrium.
- Horizon gipsik : Horizon yang banyak mengadung gipsum (CaSo4).
- Horizon oksik : Tebal 30 cm atau lebih, KTK ‹ 16 me/100g liat.
- Horizon spodik : Horizon illuviasi seskuioksida bebas dan bahan organik.
- Horizon kandik : Seperti argillik tetapi KTK ‹ 16 me/100g liat.
- Horizon petrokalsik : Horizon kalsik yang mengeras.
- Horizon sombrik : Horizon berwarna gelap, sifat-sifat seperti epipedon umbrik, terjadi iluviasi humus tanpa Al dan tidak terletak di bawah horizon albik.
- Horizon sulfurik : Horizon yang banyak mengandung sulfat masam (cat clay), pH ‹ 3.5 terdapat karatan, terdiri dari jarosit.
- Horizon petrogipsik : Horizon gipsik yang mengeras.
- Horizon salik : Tebal 15 cm atau lebih, banyak mengandung garam-garam sekunder yang mudah larut.
(Hasibuan, 2006).

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di lokasi Peternakan dan Hutan Tridharma Lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian ± 25 m dpl. Pada hari Jumat, 4 April 2010 pada pukul 14.00 WIB sampai dengan selesai.

Bahan dan Alat
Bahan

- Profil Tanah sebagai objek pengamatan
- Air sebagai bahan pelunak
- Meteran kertas untuk mengukur panjang tiap horizon / kedalaman tanah

Alat

- Cangkul untuk menggali lubang profil dan mengangkat tanah
- Meteran untuk mengukur panjang tiap horizon / kedalaman tanah
- Pisau pandu untuk menentukan batas-batas horizon dan untuk memotong perakaran tanaman yang mengganggu
- Tembilang untuk mengikis profil tanah
- Ember untuk menguras air dalam profil


Metode Percobaan
Adapun metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode penyifatan tanah by feeling.

Prosedur Percobaan
Penyipatan Profil

- Disiapkan alat dan bahan
- Digali tanah dengan ukuran 1 x 1 m dan dengan kedalaman 1,5 m
- Ditentukan horizon-horizon O, A, B, C
- Diambil jenis atau sampel tanah dari tiap horison tanah yang telah dibuat
- Dilakukan pengamatan tanah (penentuan warna, tekstur, struktur, drainase, kedalaman efektif) dan dicatat hasil pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Nomor Profil : 1
Lokasi : Peternakan
Lereng : 3%
Topografi : Landai
Bahan Induk : Tuff Liparit
Vegetasi :
(Alang-alang)
Drainase : Baik
Altitude : ± 25 m dpl
Kedalaman Efektif : 20 cm
Nama Tanah (USDA) : Entisol

Tabel 1. Deskripsi Profil Tanah Entisol

Horizon Kedalaman Keterangan
Ap 0-22 cm Warna : Coklat
Tekstur : Lempung liat berpasir
Struktur : Remah
Kedalaman efektif : 0-22 cm

C 22-64 cm Warna : Abu-abu kecoklatan
Tekstur : Pasir berdebu
Struktur : Granular

B 64-110 cm Warna : Abu-abu
Tekstur : Liat berdebu,
Struktur : Gumpal bersudut


No Profil : 2
Lokasi :
Lereng : 3%
Topografi : Landai
Bahan Induk : Tuff Liparit
Vegetasi : Mahoni
Drainase : Buruk
Altitude : ± 25 m dpl
Kedalaman Efektif : 40 cm
Nama Tanah (USDA) : Inseptisol


Tabel 2. Deskripsi Profil Tanah Inseptisol

Horizon Kedalaman Keterangan
A1 0-14 cm Warna : Coklat Kehitaman
Tekstur : Liat
Struktur : Gumpal
Kedalaman efektif : 0-20 cm

A2sm 14-54 cm Warna : Coklat
Tekstur : Liat
Struktur : Gumpal

BC 54-104 cm Warna : Coklat
Tekstur : Liat
Struktur : Gumpal


Pembahasan
Dari hasil pengamatan profil dilapangan yaitu pada lokasi Peternakan dengan kemiringan lereng 3%, topografi landai, bahan induk tuff liparit. Lokasi tersebut memiliki vegetasi Alang-alang (Imperata cylindrica), berdrainase baik, kedalaman efektif 20 cm dan diperoleh jenis ordo tanah dengan menggunakan Key Soil Taxonomy 2006 adalah tanah Entisol.
Tanah Entisol ini memiliki horizon Ap, C, B. Dapat di lihat bahwa dari hasil horizon yang diperoleh pada tanah ini menunjukkan tanah ini masih baru berkembang. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh Harjowigeno (1993) bahwa Entisol merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk tanah saja tetapi harus sudah terjadi proses pembentukan tanah.
Pada horizon Ap, tanah berwarna coklat dengan tekstur lempung liat berpasir. Horizon C, tanah berwarna abu-abu kecoklatan dengan tekstur pasir berdebu. Dan horizon B, tanah berwarna abu-abu dengan tekstur liat berdebu. Umumnya tanah Entisol ini bertekstur liat. Keadaan teksturnya seperti ini karena profil tanah yang diamatati dilapangan berdrinase baik. Hal ini sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh Rafi’I (1990) Seperti aluvial dari daerah-daerah alluvium masih memperlihatkan penampang asli (belum berubah). Keadaan tekstur tanah tergantung pada proses transportasi dan akumulasinya. Dekat-jauhnya bahan itu diangkut dari sumber dan faktor waktu. Pada umumnya besar tekstur tanah yang demikian memperlihatkan tekstur kasar jika berdekatan dengan sungai, dan bertekstur halus juka berjauhan dari sungai atau di luar jalur dataran banjir. Sedangkan penyebaran golongan Entisol tergantung pada keadaan fifiografi yang sangat berbeda-beda (iklim, morfologi, dan pedologi).
Dari hasil pengamatan profil dilapangan yaitu pada lokasi Hutan Tridharma dengan kemiringan lereng 3%, topografi landai, bahan induk tuff liparit. Lokasi tersebut memiliki vegetasi Pohon Mahoni, berdrainase buruk, kedalaman efektif 40 cm dan diperoleh jenis ordo tanah dengan menggunakan Key Soil Taxonomy 2006 adalah Inseptisol.
Tanah Inseptisol ini memiliki horizon A1, A2sm, dan BC. Tanah ini mulai berkembang dengan terbentuknya differensiasi horizon. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Rafi’I (1990) bahwa Ciri khas Inseptisol ialah belum menunjukkan perkembangan horizon yang jelas atau baru mulai ada perkembangan tersebut.
Pada horizon A1, tanah berwarna coklat kehitaman dengan tekstur liat. Horizon A2sm tanah berwarna coklat dengan tekstur liat. Dan horizon BC berwarna coklat dengan tekstur liat. Umumnya tekstur tanah Inseptisol ini adalah liat. Keadaan tekstur tanah tergantung pada proses transportasi dan akumulasinya.Tekstur tanah liat, merupakan tanah yang halus karena berjauhan dengan sungai dan banjir. Hal ini sesuai dengan literatur Rafi’i (1990) bahwa Keadaan tekstur tanah tergantung pada proses transportasi dan akumulasinya. Dekat-jauhnya bahan itu diangkut dari sumber dan faktor waktu.
Diperoleh kedalaman efektif tanah Entisol ini 0 – 22 cm yaitu pada horizon Ap, kedalaman efektif tanah Inseptisol adalah 0 – 20 cm yaitu pada horizon A1 juga. Kedalaman efektif merupakan sejauh mana kemampuan akar menembus tanah. Sehingga kedalaman ini dikatakan batas akar dapat berkembang. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (2008c) bahwa Horizon A, juga disebut lapisan tanah, yang ditemui di bawah cakrawala O dan E di atas cakrawala. Bibit akar tanaman tumbuh dan berkembang dalam lapisan warna gelap. Itu terdiri dari humus (decomposed masalah organik) dicampur dengan partikel mineral.
Dari hasil pengamatan profil tanah dilapangan pada lokasi Peternakan diketahui bahwa struktur tanah Entisol adalah remah dan granular. Drainase yang ada pada tanah tersebut adalah baik. Sedangkan tanah Inseptisol di lokasi Hutan Tridharma memiliki struktur gumpal dengan drainase yang buruk. Hal ini dapat disimpulkan bahwa struktur mempengaruhi drainase, jika semakin kuat struktur yang dimiliki, maka drainase tanah akan terhambat sebab partikel air tidak dapat melewati tanah karena strukturnya kuat (gumpal). Sebaliknya jika struktur yang dimiliki tanah remah atau granular maka drainase akan menjadi baik, sebab partikel air mampu masuk kedalam tanah dan tidak terjadi penggenangan.
Pada pengamatan profil tanah pada lokasi Peternakan diketahui bahwa warna tanah Entisol adalah abu-abu kecoklatan sampai abu-abu. Dari warna tanah dapat diketahui pada tanah Entisol kandungan bahan organiknya rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Di daerah yang mempunyai sistem drainase (serapan air) buruk, warnah tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat di dalam tanah berbentuk Fe2+. Sedangkan di Hutan Tridharma warna tanah Inseptisol adalah coklat sampai coklat kehitaman. Terdapat perbedaan warna tanah sebab kandungan bahan organik pada tanah Inseptisol di lokasi Hutan Tridharma tergolong tinggi. Karena, semakin gelap warna tanah semakin tinggi kandungan bahan organiknya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Profil tanah di lokasi Peternakan pada lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, memiliki ciri-ciri:
Lereng : 3%
Topografi : Landai
Bahan Induk : Tuff Liparit
Vegetasi : Imperata cylindrica (Alang-alang)
Drainase : Baik
Altitude : ± 25 m dpl
Kedalaman Efektif : 20 cm
Nama Tanah (USDA) : Entisol
2. Tanah Entisol ini mempunyai horizon:
- Ap ; Kedalaman 0-22 cm
Warna: coklat
Tekstur: lempung liat berpasir
Struktur : Remah
Kedalaman efektif : 0-22 cm
- C ; Kedalaman 22-64 cm
Warna: Abu-abu kecoklatan
Tekstur: Pasir berdebu
Struktur: Granular

- B ; Kedalaman 64-110 cm
Warna: Abu-abu
Tekstur: Liat berdebu
Struktur: Gumpal
3. Profil tanah di lokasi Hutan Tridharma pada lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, memiliki ciri-ciri:
Lereng : 3%
Topografi : Landai
Bahan Induk : Tuff Liparit
Vegetasi : Pohon Mahoni
Drainase : Buruk
Altitude : ± 25 m dpl
Kedalaman Efektif : 40 cm
Nama Tanah (USDA) : Inseptisol
4. Tanah Entisol ini mempunyai horizon:
- A1 ; Kedalaman 0-14 cm
Warna: Coklat kehitaman
Tekstur: Liat
Struktur : Gumpal
Kedalaman efektif : 0-20 cm
- A2sm ; Kedalaman 14-54 cm
Warna: Coklat
Tekstur: Liat
Struktur: Gumpal
- BC ; Kedalaman 54-104 cm
Warna: Coklat
Tekstur: Liat
Struktur: Gumpal

Saran
Para praktikan lebih teliti dalam mendeskripsikan profil tanah sehingga diperoleh hasil yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2008a. Tanah. http://cerianet-agricultur.blogspot.com. Diakses pada 15 April 2010.

Anonimous, 2008b. Profil Tanah. http://modul-online/2009/Profil-Tanah. Diakses 15 April 2010.

Anonimous, 2008c. Horizon-horizon tanah. http:// mbojo. wordpress. com/ 2008/ 01/06/horizon-tanah. Diakses 15 April 2010.

Anonimous, 2010. Soils. http://www.soils/academic-classes. Diakses 15 April 2010.

Buckman, H. O dan N. C. Brady., 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara, Jakarta.

Darmawijaya, M. I. 1990. Klasifikasi Tanah. Gdajah Mada University Press, Yogyakarta.

Fitzpatrick, E. A. 1980. An Introduction Soil Science. Second Edition. University of Aberdein.

Foth H. D. 1994. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Terjemahan Soenartono Adi soemarto. Edisi keenam. Erlangga, Jakarta.

Hakim, N. M. Y. Nyakpa., A. M. Lubis., S. G. Nugroho., M. R. Soul., M. A. Diha., G. B. Hong dan H. H. Bailey. 1986. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar - Dasar Ilmu Tanah. Departemen Ilmu Tanah. Edisi ke 1-2. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi dan Pedogenesis Tanah. Akademia Pressindo, Jakarta.

Hasibuan, B. E. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Departemen Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Pustaka Jaya, Jakarta.

Rafi’i, S., 1990. Ilmu Tanah. Angkasa, Bandung.


Soil Survey Staff., 1975. Soil Taxonomy. U. S. Department of Agriculture Soil
Conservation Service, Washington D. C.

Sutedjo, M. M. dan A. G. Kartasapoetra. 2005. Pengantar Ilmu Tanah, Terbentuknya Tanah dan Tanah Pertanian. Rineka Cipta, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar